<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1" ?>
<rdf:RDF
  xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#"
  xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
  xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
  xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
  xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
  xmlns="http://purl.org/rss/1.0/">

<channel rdf:about="http://www.grioo.com/blogs/swaradongeng/index.php/">
  <title>sastrasinema</title>
  <description><![CDATA[sastrasinema]]></description>
  <link>http://www.grioo.com/blogs/swaradongeng/index.php/</link>
  <dc:language>fr</dc:language>
  <dc:creator></dc:creator>
  <dc:rights></dc:rights>
  <dc:date>2006-01-18T13:40:27+00:00</dc:date>
  <admin:generatorAgent rdf:resource="http://www.dotclear.net/" />
  
  <sy:updatePeriod>daily</sy:updatePeriod>
  <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
  <sy:updateBase>2006-01-18T13:40:27+00:00</sy:updateBase>
  
  <items>
  <rdf:Seq>
    <rdf:li rdf:resource="http://www.grioo.com/blogs/swaradongeng/index.php/2006/01/18/736-sajak-sajak-klungsu" />
  </rdf:Seq>
  </items>
</channel>

<item rdf:about="http://www.grioo.com/blogs/swaradongeng/index.php/2006/01/18/736-sajak-sajak-klungsu">
  <title>sajak-sajak klungsu</title>
  <link>http://www.grioo.com/blogs/swaradongeng/index.php/2006/01/18/736-sajak-sajak-klungsu</link>
  <dc:date>2006-01-18T13:40:27+00:00</dc:date>
  <dc:language>fr</dc:language>
  <dc:creator>swaradongeng</dc:creator>
  <dc:subject></dc:subject>
  <description>le poeme de ce blog est un essai pour trouver des mots que j'ai perdu</description>
  <content:encoded><![CDATA[<p>le poeme de ce blog est un essai pour trouver des mots que j'ai perdu</p> <p><strong>sajak sajak klungsu</strong></p>


<p>1</p>


<p>aku mengembara ke dalam dawai dan tiba di damsyik
menjajakan puisi</p>


<p>- inilah radio dan botol kosong!
kunyanyikan dylan, beatles, dandanggula, mazika.com
jiwa merdu, sanggurdi  menatah amarah di pintu kota
dewi lidah getih
darah tersirap
belalang terbang
aku ruh yang butuh tubuh,</p>


<p>kabarkan duniaku yang tersunyi &#8211; dikuasai kamar dan lari ke tengah
rimba gelap &#8211;sedang matahari tersedu-sedan
para perawan!sirnaku mainkan gamelan dan tombol radio
bangunkan rembulan dari dasar laut,
memandang orang bercanda dan berpelukan,
setelah dawai-dawai kendor
dylan ngungsi dari baghdad, beatles menjaja rambutan
di tengah laut menanti mimpi</p>


<p>jiwaku, mana murungmu? pijak di bawah sepatu dan
bawa ke atas bukit, bebaskan dia menggelinding dan
memanjati puncak yang patah setelah mayatnya ocehkan
dewi lidah getih
darah tersirap
belalang terbang
di jurang sebelah rumah, tempat tubuh rebahkan baka</p>



<p>2
sebuah meja dan dirimu
menghuni kamar itu
dan seperti biasanya, kauhidangkan kertas yang bertabur sajak
- masih saja kautelusuri desa-desa kering</p>

<pre>  tanpa hujan besar dan banjir besar</pre>


<p>biarkan rembulan redup berkunjung
merangkak sekeliling meja dan biarkan ia membakar amarah:
je suis tombée amoureuse d&#8217;une musique
situ mau apa?
3
hujan yang jatuh
bebaskan seseorang dari sunyi
keasingan terlalu murah dan terlalu lumrah
terkoyak di ujung daun layu
menyaksikan seseorang menurunkan matahari
membuat jendela impian di sana
-	bunga
saat kau mendengarkan kuliah di  rembang petang
hujan membasahi kembang-kembang yang tidak
rela tubuhnya bermandi harapan tiada selain suara suara suara
dari depan kelas yang tiba-tiba retak mengeluhkan masa lalu
yang tualang dari kutu ke obat pencahar</p>


<p>masa laluku yang tersimpul senyap, kekasih
aku rindukan tarub bermain catur denganku
mengisi segenap gairah bersama ciuman merah dan jantung berdarah
gemericing hujan mengusap tilamku selalu basah air mata karena
dingin tubuhku telanjang dalam waktu</p>



<p>4</p>


<pre>      kesunyian lelaki ini dibawa malaikat dari ujung</pre>

<p>rambut memendar mencari lindung di leher kekasih yang putih tetapi harumnya meronta dalam rimba makna</p>

<pre></pre>

<p>dan sunyi itu menjurai rambut seorang gadis sedang bermain air laut mengumpulkan hari di setiap helai nadi birahi hidupnya</p>


<p>seorang lelaki kepada langit menawarkan anggur manis karena berharap wajah kekasih timbul tenggelam --- teguk dan basahi lubang ruh dari dahaga panjang , mendahak dan muntahkan isi kehidupan di sofa waktu yang enggan menolak beku</p>


<p>siapa mati saat tembang kebogirotarigambyong penuhi alunalun dengan lidah beku dan cucuran darah? siapa mati? siapa mati? kaukah yang pecah dari setangkai mawar pedupaan bawah pancuran tempat tarub temukan tujuh puteri dan isengnya menggotongi sebongkah batu yang tumbuh dalam kemanusiaan yang retak?
tanah retak!
dari lubang mulutmu tidak mencuat tombak pembidik matahari yang tiba-tiba saja mengancam sebentuk angan asmara dalam dering sekumpulan kunci kehidupan
kita, tak lagi tingkahi nyanyian ini semata-mata dengan impian dan kesiaan.</p>


<p>5</p>


<p>dormidosduredur!
prajurit gagah, mari sandang peperangan ini ke jantung kota dan bikin jemaah di sana:</p>


<p>-	kamarku telah sangsai, wahai jalan lurus, buatlah tembusan di sana. manusia atau seekor lipas, biarkan temukan aku bicarakan papan catur, kopi panas, tubuh waktu, politik mawar, atau bahkan kuliah jam satu pagi! Dormir-dos-durer-dur!</p>


<p>seorang perempuan tua yang lain, yang bertelanjang hati tetapi berkebaya, melepas kepalanya, menaruhnya di dalam tas belanja, mendatangi pengkotbah jam satu pagi:
-	anakku menjadi mujahid dan masuk kota ini terpaut oleh tutur katamu! tetapi mayatnya terbujur di moncong kata-katamu dan berduka aku sehingga terbagi tubuhku di kedua mauKu, ujud dan tiada tubuh. Ini! (ia melemparkan kepala ke kaki mimbar) bumiku telah memisah di kesunyian jalan lurus hasil ocehan bekumu! Dormir-dos-durer-dur!
Oo ladang, pengumpil batu timbunan air---di tengah hari rapatkan gerbang bekas leluhur pergi jauh. Tidak jejak bahkan bau pun. Kepada siapa tangis dijatuhkan? Mengapa tangan harus beruratkan murung dan pecah dalam derai derai derai gerimis rinai?</p>



<p>6</p>


<p>kisah berdarah!
Beradu tinju kepada gadis di sebalik kaca
Ayolah naiki pohonmu
Aku sandang waktu dan mengambil jarak melepaskan
langkah hitungi waktu
setetes sumur
kita siapa dan mengapa tanyakan harus tidak bersama
selain sirna, tiada ada
oo mana cahaya rembulan yang kerap goda kamar belajar
dengan merah kemudaan kita bikin pesta!
ayo, angin yang gagah
lucuti semua batas waktu batas ruang, kecuali satu
biarkan duka dalam gelas menjadi sembilu waktu
agar hukum waktu bagi gadis di atas pohon ada dan tiada

ini pesta meriah dan kurang ajar! Teriak sebuah bayangan menyuruk dari dalam
gelas tumpah: kita dan siapa saja tiada bermuasal selain pesta tanpa tembang tembang tembang tentang kembang
tiktak tiktak tiktak tiktak
musiiik!
turunlah engkau dari bukit nuh
bikinlah meriah semua tiada yang pecah
getarkan dawaidawai lembut di perut kekasih
yang bangkitkan keindahan dari kotak bedak
kita tambak air mata
kita mainkan tombak ikan di sana
manakah ombak dan angin parau yang akan bawakan kabar bahwa kapal akan jatuhkan sauh di pelabuhan kembara?</p>



<p>7</p>



<p>puaka, sebelum turun bumi --- berbahasakan engkau?
sebelum masuki pual---ketuk pintukah?
maka pagi yang pudar pada divanku ciptakan pukas dan pemandian pualam yang ukir nama seseorang dalam mimpi semalam
gadis manis dan sebatang pucung, pusa pusa pusa
bonga bolai pusu tersentuh angin</p>



<p>8</p>



<p>wahai rahasia masa
kurambih jiwamu dengan mulut hampir retak
aku ngungun
aku rambun
-	rangapa aku merambih jiwa gelisah dengan puaka!
Pusaran air dan pusa! Pusa!</p>






<p>Pusa!
Jiwaku, marilah turun gunung dan masuki goia tempat Yakub
Mengaku alahkan anak-bini, kita bersatu
bicara dan langit
biarkan berdesakan pandangi dua
gelas teh kental
hilang gerak dan letaknya pada lantai yang keriput dan tangisan
harapan yang keriput, di pagi menuju jalan kamarku berkeringat
seolah-lelah dalam pengaruh detik dan musik tiktak tingtong
kita lepas
saling untaikan kata-kata tetang bayi dan juga darah
di bawah lampu tampias, kita basah
kita lelah dan berserah
di bawah hujan demi amarah</p>


<p>oya, barangkali pikiran memikirkan tuhan atau titipan senyuman kekasih
dan selalu demikianlah mata dua kail teruncang-uncang
lantaran sungai kering dahaga dan ikan-ikan membuat rumah di dalam
batu hitam
engkau yang lemah, bisikmu asal saja, tak pernah bisa menangisi
matahari yang gagah berani karena iA punya separuh isi kaleng roti
di atas meja
air teh yang genangi wajah, tidak mampu pantulkan daku yang
lagi tersenyum karena air mata telah kutambak di kolam musik,
cintaku yang  waktu,
selamat pagi dan manis sekali langit tersenyum
tanpa burung dan pepohonan, manis sekali biola dalam jamuan pagi
tanpa ditingkahi gelas beradu
denting gelas?
turunlah engkau dari bukit nuh
untuk ukur bumi dan saksikan piramid mengoyak pucuk cemara
kita
ternyata kecil dan terlalu besar masuki lubang semut
kita
ternyata bersua kehilangan
gambar
jiwa</p>



<p>yogyakarta 1 agustus 2005</p>



<p>/8</p>]]></content:encoded>
</item>

</rdf:RDF>
